YOGYAKARTA | isnews.net | Suasana penuh kehangatan dan nostalgia menyelimuti kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Sabtu pagi (26/7/2025), ketika ratusan alumni Fakultas Kehutanan berkumpul dalam reuni akbar angkatan ke-45. Namun di antara kerumunan berseragam biru, satu sosok tampil beda dan menjadi pusat perhatian yakni Joko Widodo.
Mantan Presiden RI dua periode itu datang bersama istrinya, Iriana Jokowi. Ia mengenakan kemeja putih polos dan celana bahan hitam, tampil sederhana dan mencolok di tengah seragam biru yang dikenakan hampir semua peserta reuni. Gaya khas Jokowi — yang tetap konsisten sejak masa kampanye hingga purnatugas — menjadi simbol kuat dari kepribadian yang tidak berubah oleh jabatan.
Saat tiba di lokasi, Jokowi langsung disambut hangat oleh para alumni dan panitia. Meski hadir tanpa mengenakan seragam resmi reuni, kehadirannya justru membawa kehangatan tersendiri. Ia menjadi satu-satunya yang tampil berbeda, tetapi bukan berarti terpinggirkan. Justru, seluruh perhatian tertuju kepadanya.
Dalam acara tersebut, Jokowi mendapat kesempatan untuk memberikan sambutan khusus. Ia menyampaikan rasa bahagianya bisa kembali ke kampus yang telah membentuk karakternya sebagai pribadi dan pemimpin. “Saya merasa pulang,” ujar Jokowi dalam sambutannya yang singkat namun menyentuh. “Teman-teman Kehutanan adalah bagian dari hidup saya. Di sinilah saya belajar tentang alam, integritas, dan kejujuran.”
Reuni kali ini tak hanya dihadiri Jokowi. Sejumlah tokoh nasional dari kalangan alumni Fakultas Kehutanan UGM juga hadir. Di antaranya : Prof. Dr. Bambang Supriyanto, M.Sc., mantan Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK, Ir. Siti Nurbaya Bakar, MSc, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, meskipun hadir secara virtual lewat video sambutan, Dr. Hadi Daryanto, mantan Sekjen KLHK dan pegiat konservasi hutan, Prof. Yusak Hermawan, PhD, Guru Besar Ekologi Hutan UGM, Bambang Hendroyono, Sekretaris Jenderal Kementerian LHK, yang juga dikenal dekat dengan Jokowi.
Kehadiran para tokoh ini menunjukkan eratnya jejaring alumni Kehutanan UGM dalam mendukung isu lingkungan dan kehutanan nasional, bahkan lintas generasi dan lintas pemerintahan.
Reuni ini diprakarsai oleh Panitia Reuni Angkatan Kehutanan 45 Tahun, dengan ketua pelaksana Dr. Rina Kartikasari, dosen senior dan aktivis konservasi. Dalam sambutannya, Rina mengatakan bahwa reuni ini bukan sekadar temu kangen, tapi juga wujud tanggung jawab alumni dalam menjaga kebersamaan dan kontribusi untuk bangsa.
“Pak Jokowi adalah ikon dari apa yang bisa dicapai oleh alumni Kehutanan UGM. Beliau datang bukan hanya sebagai mantan presiden, tapi sebagai teman kuliah, sahabat diskusi, dan bagian dari keluarga besar kita,” ucap Rina disambut tepuk tangan.
Panitia lainnya antara lain: Ir. Bagus Winoto, M.Sc., koordinator logistik dan dokumentasi, Yani Subekti, S.Hut., alumni 1985, yang bertugas sebagai liaison tamu VIP, Adinda Wulandari, alumni muda yang menjadi MC acara dan penghubung generasi dan Tim pecinta alam Mapala Silvagama, turut menjadi bagian pengisi acara dengan pertunjukan musik akustik bertema lingkungan.
Setelah sambutan, Jokowi tampak santai dan akrab dengan para alumni. Ia berjalan menuju barisan depan, menyalami beberapa teman lamanya. Beberapa di antaranya terlihat emosional saat bertemu kembali dengan sosok yang dulu mereka kenal sebagai “Mas Joko” mahasiswa yang pendiam tapi pekerja keras.
Suasana hangat semakin terasa ketika para alumni bergiliran meminta foto bersama. Jokowi dengan sabar melayani permintaan tanpa ada protokol ketat. Ia bahkan sempat bercanda dengan salah satu alumni yang bertanya, “Masih inget saya, Mas Joko?” yang dijawab dengan tawa dan pelukan.
Penampilan Jokowi yang mengenakan kemeja putih mungkin tampak sepele, tapi justru mengandung makna mendalam. Banyak alumni menilai bahwa kemeja putih mencerminkan integritas dan kesederhanaan — dua hal yang identik dengan sosok Jokowi sejak masa kuliah.
“Beliau nggak pernah berubah. Dari dulu ya seperti itu. Kalem, tenang, dan nggak neko-neko. Kemeja putih itu seperti pernyataan bahwa dia tetap bersih dan lurus,” kata Ir. Agus Purwanto, salah satu sahabat kuliah Jokowi.
Menurut Prof. Yusak Hermawan, simbolisme kemeja putih di tengah seragam biru justru memberi pelajaran penting. “Justru di tengah keseragaman, hadirnya perbedaan yang jujur adalah kekuatan. Pak Jokowi memberi pesan diam tentang pentingnya jadi diri sendiri,” ujarnya.
Reuni angkatan ke-45 ini bukan sekadar temu rindu. Ada sesi diskusi bertema “Peran Alumni Kehutanan UGM dalam Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan”, yang diikuti sejumlah alumni dari Kementerian LHK, NGO lingkungan, dan akademisi. Jokowi memang tak sempat ikut diskusi, namun ia menitipkan pesan agar alumni Kehutanan UGM terus menjaga komitmen pada pelestarian lingkungan.
Jokowi menyebut pentingnya peran kehutanan dalam menjaga ketahanan iklim dan kesejahteraan masyarakat pedesaan. “Kalau kita jaga hutan, hutan akan jaga kita,” ucapnya sambil tersenyum.
Bagi Jokowi, reuni ini tampaknya bukan sekadar agenda nostalgia. Di tengah berbagai hiruk pikuk politik dan dinamika bangsa, pulang ke kampus adalah momen untuk mengingat akar perjuangan. Ia datang tanpa pengawalan ketat, tanpa panggung besar, dan tanpa atribut jabatan. Hanya dengan senyum, kenangan, dan kemeja putih.
Sementara itu, bagi alumni lain, kehadiran Jokowi adalah inspirasi, bahwa dari kampus ini, banyak hal besar bisa lahir. Dan bahwa, sesederhana apa pun tampilannya, nilai-nilai jujur, kerja keras, dan cinta lingkungan tetaplah warisan abadi yang tak lekang oleh waktu.


















