BANDUNG | isnews.net | Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan mencatat sejarah baru dalam penguatan struktur pertahanannya. Pada Minggu, 10 Agustus 2025, enam Komando Daerah Militer (Kodam) baru akan diresmikan secara serentak di Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus (Pusdiklatpassus), Batujajar, Bandung, Jawa Barat. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar TNI untuk memperkuat pengamanan wilayah sekaligus mendorong pembangunan di daerah tertinggal.
Enam Kodam baru tersebut meliputi:
-
Kodam XIX/Tuanku Tambusai — membawahi wilayah Riau dan Kepulauan Riau.
-
Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol — meliputi Sumatera Barat dan Jambi.
-
Kodam XXI/Radin Inten — meliputi Lampung dan Bengkulu.
-
Kodam XXII/Tambun Bungai — membawahi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
-
Kodam XXIII/Palaka Wira — meliputi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.
-
Kodam XXIV/Mandala Trikora — berpusat di Merauke, Papua Selatan.
Upacara peresmian ini diperkirakan akan dihadiri oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, para Kepala Staf TNI, pejabat Kementerian Pertahanan, serta kepala daerah dari provinsi-provinsi yang masuk dalam wilayah komando baru tersebut.
Rencana pembentukan Kodam baru bukanlah hal yang tiba-tiba. Dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR RI pada 21 Maret 2024, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto memaparkan bahwa dari 15 Kodam yang saat ini ada, TNI menargetkan pembentukan 22 Kodam tambahan secara bertahap. Penambahan ini tidak hanya demi kepentingan pertahanan, tetapi juga bertujuan untuk mempercepat pemerataan pembangunan di daerah-daerah yang tergolong tertinggal.
“Pembentukan Kodam baru dilakukan di daerah-daerah yang secara geografis, demografis, dan kondisi sosial ekonominya membutuhkan perhatian lebih. Keberadaan Kodam akan mempermudah koordinasi lintas sektor, mempercepat respons terhadap ancaman, dan mendorong pembangunan infrastruktur,” ujar Jenderal Agus kala itu.
Ia menegaskan bahwa selain fungsi pertahanan, TNI memiliki peran strategis dalam membantu pemerintah daerah mengatasi hambatan pembangunan, termasuk di wilayah perbatasan, pulau terluar, dan daerah rawan bencana.
Setiap Kodam baru memiliki cakupan wilayah strategis yang dipilih berdasarkan pertimbangan keamanan nasional.
-
Kodam XIX/Tuanku Tambusai di Riau dan Kepulauan Riau akan mengawasi wilayah kaya sumber daya alam sekaligus pintu gerbang perdagangan internasional yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia.
-
Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat dan Jambi akan memperkuat pengamanan pesisir barat Sumatera sekaligus jalur strategis di Selat Malaka bagian selatan.
-
Kodam XXI/Radin Inten di Lampung dan Bengkulu mengamankan wilayah vital yang menjadi pintu gerbang menuju Pulau Sumatera melalui Pelabuhan Bakauheni.
-
Kodam XXII/Tambun Bungai di Kalimantan Tengah dan Selatan akan fokus pada pengamanan wilayah yang dekat dengan kawasan strategis Ibu Kota Nusantara (IKN) serta menjaga potensi sumber daya alam yang melimpah.
-
Kodam XXIII/Palaka Wira di Sulawesi Tengah dan Barat akan memperkuat pengamanan jalur laut strategis dan kawasan yang sering mengalami gempa bumi, sehingga TNI dapat lebih cepat dalam penanganan bencana.
-
Kodam XXIV/Mandala Trikora di Merauke, Papua Selatan, memegang peranan penting dalam menjaga kedaulatan NKRI di wilayah timur, terutama di perbatasan dengan Papua Nugini.
Selain penguatan pertahanan, keberadaan Kodam baru diharapkan membawa dampak positif bagi perekonomian dan pembangunan daerah. Pembangunan markas, perumahan prajurit, dan fasilitas pendukung akan memicu pertumbuhan sektor konstruksi, perdagangan, hingga jasa. Perputaran ekonomi lokal di sekitar markas Kodam akan meningkat, membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
Tak hanya itu, Kodam juga akan memperkuat kerja sama lintas sektor dengan pemerintah daerah, kepolisian, dan instansi terkait dalam mengatasi tantangan lokal seperti penyelundupan, illegal fishing, hingga konflik sosial.
Pengamat militer dari Lembaga Studi Pertahanan Nusantara, Brigjen (Purn) Andika Pratama, menilai langkah TNI ini sebagai kebijakan strategis jangka panjang. “Kita tidak bisa hanya fokus di pusat atau kota besar. Perbatasan, pulau terluar, dan wilayah terpencil justru menjadi garda terdepan pertahanan. Dengan adanya Kodam, segala potensi ancaman bisa lebih cepat diantisipasi,” ujarnya.
Meski dinilai tepat, pembentukan Kodam baru juga menghadapi tantangan, seperti kebutuhan anggaran yang besar, rekrutmen personel tambahan, hingga pembangunan infrastruktur pendukung di wilayah yang mungkin memiliki akses transportasi terbatas.
Namun, TNI optimistis bahwa investasi ini akan berbanding lurus dengan manfaat jangka panjang. “Keamanan adalah fondasi pembangunan. Tanpa keamanan, pembangunan tidak akan berjalan optimal,” tegas Panglima TNI dalam pernyataan resminya.
Masyarakat di wilayah yang akan menjadi bagian Kodam baru menyambut gembira rencana ini. Rosmawati, warga Merauke, Papua Selatan, mengatakan bahwa kehadiran Kodam XXIV/Mandala Trikora diharapkan mempercepat pembangunan jalan dan fasilitas umum. “Kalau ada Kodam di sini, perhatian pemerintah pasti lebih besar. Kami harap jalan-jalan di kampung cepat diperbaiki, dan keamanan juga makin terjaga,” katanya.
Dengan peresmian enam Kodam baru ini, TNI selangkah lebih dekat pada visinya menciptakan pertahanan berlapis di seluruh wilayah NKRI. Penempatan komando di lokasi strategis diharapkan mampu menjamin keamanan nasional dari ancaman luar maupun dalam negeri, sekaligus memastikan percepatan pembangunan daerah.
Langkah ini menandai era baru bagi TNI, di mana kekuatan pertahanan tidak hanya terpusat di wilayah strategis tertentu, tetapi merata hingga ke pelosok nusantara.
Jika sesuai rencana, dalam beberapa tahun mendatang, 22 Kodam baru akan berdiri, menjadikan total 37 Kodam di seluruh Indonesia. Ini akan menjadi struktur komando teritorial terbesar sepanjang sejarah TNI.


















