Lombok Utara, NTB | isnews.net | Dalam upaya meningkatkan ketahanan bangunan terhadap bencana gempa bumi, Program Studi Magister Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram (Unram) menggelar Workshop Pengabdian Masyarakat bertema “Desain Rumah dan Sekolah Tahan Gempa dengan Inovasi Balutan Lapisan Ferosemen pada Dinding”.
Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (12/7/2025), bertempat di Kantor Desa Segara Katon, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara—daerah yang sempat menjadi wilayah terdampak paling parah saat gempa besar tahun 2018 silam.
Acara dibuka oleh Prof. Ir. Buan Anshari, ST., MSc (Eng)., Ph.D., IPM. selaku Ketua Pelaksana kegiatan. Dalam sambutannya, Prof. Buan menekankan pentingnya membangun rumah dan sekolah dengan struktur yang kuat dan adaptif terhadap gempa, sebagai bentuk mitigasi bencana berbasis teknologi teknik sipil.
“Kami ingin mendorong masyarakat membangun dengan pendekatan ilmiah dan berkelanjutan. Ferosemen adalah salah satu teknologi sederhana tapi sangat efektif dalam memperkuat struktur dinding,” ujar Prof. Buan.
Sebagai narasumber utama, Dr.Eng. Hariyadi, ST., MSc (Eng)., menjelaskan secara teknis konsep struktur bangunan tahan gempa dengan balutan lapisan ferosemen, yaitu metode memperkuat dinding bata dengan balutan kawat (wiremesh) yang dilapisi mortar semen khusus.
Teknologi ini terbukti mampu meningkatkan kapasitas dinding terhadap guncangan lateral gempa secara signifikan.
“Ferosemen bukan teknologi mahal. Ini adalah solusi sederhana, bisa diaplikasikan oleh tukang lokal, dan sangat efektif menahan gaya geser gempa. Ini ilmu yang wajib diterapkan pasca-bencana,” jelas Dr. Hariyadi.
Teknologi ferosemen di Indonesia mulai dikenal luas berkat sosok mendiang Dr. Ir. Teddy Boen, M.Eng., Ph.D., seorang pakar teknik sipil dan perintis teknik bangunan tahan gempa di Indonesia.
Teddy Boen adalah sosok yang memperjuangkan agar rumah rakyat di daerah rawan gempa diperkuat dengan sistem balutan ferosemen. Ia mengedukasi masyarakat melalui pelatihan, video tutorial, dan simulasi langsung.
Metode Pembuatan Dinding Ferosemen:
-
Permukaan dinding dibersihkan dari debu dan kotoran.
-
Wiremesh (kawat ayam atau besi jaring baja ringan) ditempelkan merata di seluruh permukaan dinding.
-
Dilakukan penyemprotan atau pelapisan mortar semen-pasir dengan rasio campuran tertentu.
-
Proses curing (perawatan) dilakukan minimal 7 hari agar ikatan kuat dan tidak retak.
-
Opsional: ditambah tulangan horizontal dan vertikal di setiap pertemuan dinding untuk memperkuat simpul bangunan.
BACA JUGA :
Turut Meramaikan Pusat Kota: Exist Hotel Hadirkan Kenyamanan dan Gaya

Workshop ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Lombok Utara, Kusmalahadi Syamsuri, yang menyampaikan dukungan terhadap upaya akademisi dalam membangun kesadaran masyarakat pasca-bencana. Turut hadir perangkat desa, mahasiswa KKN Unram, serta puluhan warga yang antusias mengikuti pemaparan.
BACA JUGA :
Desakan Masyarakat NTB Menguat: Legalkan Seluruh Tambang Rakyat, Jangan Hanya Satu!
“Kami sangat terbantu dengan pelatihan ini. Kalau dulu kami hanya tahu membangun tembok biasa, sekarang kami paham pentingnya ferosemen agar rumah lebih tahan gempa,” ungkap salah satu warga peserta.
Kegiatan ini menjadi bentuk nyata sinergi antara dunia akademik dan masyarakat dalam menyiapkan solusi berbasis lokal untuk masalah global seperti gempa bumi.
Universitas Mataram melalui Program Magister Teknik Sipil berkomitmen untuk terus membumikan teknologi tahan gempa, terutama di wilayah rawan bencana seperti Lombok Utara.
“Kuncinya bukan di alat mahal, tapi di ilmu pengetahuan yang dibagikan dengan tepat kepada masyarakat,” pungkas Prof. Buan Anshari.


















