Lombok Utara, NTB | isnews.net | Suasana hangat dan semangat sportivitas di ajang Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) 2025 di Nusa Tenggara Barat mendadak dikejutkan oleh kabar duka. Seorang peserta kontingen asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilaporkan meninggal dunia saat sedang melakukan aktivitas wisata snorkeling di perairan Pantai Dusun Gili Meno, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, pada Kamis, 24 Juli 2025.
Korban diketahui berinisial RHW, pria berusia 64 tahun, warga Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, DIY. Ia merupakan bagian dari kontingen cabang olahraga Gate Ball DIY yang akan mengikuti pertandingan FORNAS NTB di Kota Mataram pada 29–31 Juli 2025.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, korban bersama rombongan berjumlah 15 orang baru saja tiba di Kota Mataram pada Rabu (23/7/2025). Sebagai bagian dari agenda rekreasi, keesokan harinya rombongan melakukan perjalanan wisata ke Gili Trawangan dan tiba di sana sekitar pukul 09.30 WITA.
Tak berselang lama, sekitar pukul 09.45 WITA, rombongan mulai melakukan aktivitas snorkeling di sekitar perairan Gili Meno. Namun, hanya lima menit setelah memasuki air, korban tiba-tiba tidak sadarkan diri di tengah laut.
Menurut keterangan saksi mata sekaligus rekan rombongan, Ir. R. Sapto Wianarno, korban awalnya terlihat antusias mengikuti kegiatan snorkeling bersama anggota lain. Namun situasi berubah drastis dalam hitungan menit.
“Begitu korban tak sadarkan diri, kami langsung mengangkatnya ke daratan dan melakukan pertolongan pertama berupa CPR (cardiopulmonary resuscitation),” ujar Sapto.
Korban segera dilarikan ke Klinik Warna Gili Trawangan untuk penanganan medis. Namun, setibanya di klinik tersebut, nyawa korban tidak tertolong. Petugas medis menyatakan bahwa korban telah meninggal dunia beberapa saat sebelumnya.
Kepala Satuan Reskrim Polres Lombok Utara, AKP Punguan Hutahaean, S.Tr.K., S.I.K., dalam keterangannya kepada awak media menyampaikan bahwa korban diduga mengalami serangan jantung saat melakukan snorkeling.
“Dari keterangan awal yang kami terima, korban memiliki riwayat penyakit bawaan, dan ini juga dikonfirmasi oleh pihak keluarga,” jelasnya.
Setelah dilakukan evakuasi oleh personel Polsek Pemenang dan tim medis, jenazah RHW dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Mataram untuk penanganan lanjutan. Namun pihak keluarga menyatakan menolak dilakukan autopsi, dan menerima kejadian tersebut sebagai musibah.
Meski dugaan awal mengarah pada penyebab medis, pihak kepolisian tetap melakukan langkah penyelidikan lebih lanjut guna memastikan tidak ada unsur kelalaian atau faktor lain yang berkontribusi dalam insiden ini.
“Saat ini, Sat Reskrim Polres Lombok Utara masih mendalami kronologi lengkap kejadian, termasuk keterangan semua saksi yang berada di lokasi,” imbuh AKP Punguan Hutahaean.
Kabar duka ini langsung menyebar cepat di kalangan peserta FORNAS 2025. Banyak yang menyampaikan rasa belasungkawa atas kepergian RHW, yang dikenal sebagai sosok aktif dan penuh semangat di komunitas olahraga Gate Ball DIY.
Pihak penyelenggara FORNAS NTB juga telah menyampaikan dukacita mendalam dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta kontingen DIY untuk penanganan administrasi dan pemulangan jenazah.
Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya peningkatan standar keamanan dan pemeriksaan kesehatan peserta kegiatan wisata bahari, khususnya bagi kelompok usia lanjut atau mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu.
Pantai Gili Meno dan sekitarnya memang menjadi salah satu destinasi utama wisata snorkeling dan diving di NTB, namun insiden ini menegaskan bahwa kegiatan air tetap memiliki risiko tinggi, terutama bagi yang tidak dalam kondisi fisik prima.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa di balik semarak perhelatan nasional seperti FORNAS, faktor keselamatan dan kesehatan peserta harus menjadi prioritas utama. Dukungan dan koordinasi antara penyelenggara, aparat, dan fasilitas kesehatan di lokasi destinasi wisata sangat penting untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.
Semoga kejadian ini tidak hanya menjadi kabar duka, tetapi juga menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap aspek keselamatan wisata olahraga, agar semangat rekreasi tetap berjalan seiring dengan keamanan dan kenyamanan seluruh peserta.


















