banner 728x250

Tragedi di Langit Ciampea: Mantan Kadispen AU Marsma TNI Fajar Adrianto Gugur dalam Kecelakaan Pesawat Latih

banner 120x600
banner 468x60

BOGOR, JAWA BARAT | isnews.net | Duka menyelimuti dunia kedirgantaraan Indonesia. Sebuah pesawat latih ringan jatuh tragis di area pemakaman umum Kampung Astana, Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, pada Minggu pagi (3/8/2025). Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 09.20 WIB itu menewaskan satu orang dan menyebabkan satu korban luka berat.

Korban jiwa dalam insiden ini adalah Marsma TNI (Purn) Fajar Adrianto, mantan Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispen AU). Satu orang lainnya yang belum diidentifikasi secara resmi mengalami luka serius dan tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Hassan Toto Atang Sanjaya, Kemang, Bogor.

banner 325x300

Menurut sejumlah saksi mata, pesawat latih dengan nomor ekor GT 500/PK 126 terlihat tidak stabil sesaat sebelum jatuh. Seorang warga, Fajar, mengatakan bahwa sejak terlihat di langit, pesawat tersebut terbang miring dan mengeluarkan suara mesin yang tidak biasa.

“Suaranya keras sekali. Saya kira pesawat sedang melakukan manuver. Tapi ternyata malah oleng, terus jatuh,” ujarnya.

Saksi lain, Enjat Sudrajat, yang saat itu tengah membersihkan makam, menyaksikan detik-detik kecelakaan tersebut dari dekat.

“Pesawat melintas rendah di atas makam, dalam posisi miring, lalu jatuh menghantam tanah di dekat tempat saya berdiri. Suaranya menggelegar, langsung ramai warga datang bantu,” tutur Enjat yang masih tampak syok.

Warga sekitar langsung berdatangan dan berusaha menolong korban. Kedua penumpang berhasil dievakuasi dari reruntuhan badan pesawat yang ringsek. Namun, nyawa Marsma TNI (Purn) Fajar Adrianto tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia saat tiba di rumah sakit.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsma TNI I Nyoman Suadnyana, membenarkan insiden tersebut. Dalam keterangannya, ia menyebutkan bahwa pesawat latih milik Federasi Aerosport Seluruh Indonesia (FASI) itu sedang digunakan untuk latihan terbang sipil, dan Fajar Adrianto turut menjadi instruktur dalam penerbangan tersebut.

“Korban sempat dibawa ke rumah sakit, namun dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan. Kami turut berduka yang mendalam atas kepergian beliau, salah satu tokoh penting dalam dunia penerbangan militer kita,” ujar Nyoman.

Marsma TNI (Purn) Fajar Adrianto bukan sosok sembarangan. Lahir di Malang pada 20 Juni 1970, Fajar adalah perwira tinggi TNI AU lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1992. Ia dikenal sebagai penerbang handal pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dengan call sign kebanggaannya: “Red Wolf.”

Karier militernya penuh prestasi. Ia pernah menjabat Komandan Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi (2007–2010), Komandan Lanud Manuhua Biak (2017–2019), dan Kepala Dinas Penerangan TNI AU (2019–2020). Ia juga menjadi bagian sejarah dalam duel udara dramatis antara F-16 TNI AU dan pesawat F/A-18 Hornet milik Angkatan Laut AS di atas langit Pulau Bawean pada tahun 2003—peristiwa yang hingga kini masih menjadi topik dalam diskusi strategis udara.

Tak hanya unggul di medan operasi, Fajar juga akademisi andal. Ia menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Pertahanan Indonesia dengan program studi Disaster Management for National Security. Dalam masa studinya, ia menjadi satu-satunya perwakilan TNI yang menerima sertifikat dan brevet “Tanggap Tangkas Tangguh” dari Kepala BNPB saat itu, Syamsul Ma’arif. Tesisnya yang berjudul “Pengerahan Kekuatan Udara (Air Power) dalam Tanggap Darurat Penanggulangan Bencana di Daerah Terpencil” terpilih sebagai yang terbaik di kampusnya.

Penerbangan yang seharusnya menjadi latihan biasa berubah menjadi tragedi. Meski statusnya sudah purnawirawan, Fajar tetap aktif membagikan ilmu dan pengalamannya kepada generasi muda pecinta dirgantara. Dedikasinya tak hanya untuk militer, tetapi juga untuk pembinaan kedirgantaraan sipil.

“Inilah bentuk pengabdian beliau hingga akhir hayatnya. Terbang bukan hanya tugas, tapi juga jiwa. Beliau wafat di langit yang ia cintai,” ujar seorang kerabat yang enggan disebut namanya.

Hingga Minggu siang, lokasi kecelakaan telah dipasangi garis polisi. Tim investigasi dari TNI AU dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) turun langsung ke lokasi guna menyelidiki penyebab jatuhnya pesawat tersebut.

“Fokus awal kami adalah keselamatan warga, evakuasi korban, dan pengumpulan data awal dari saksi dan komponen bangkai pesawat,” jelas salah satu petugas di lokasi.

Tragedi ini menjadi pukulan mendalam bagi keluarga besar TNI AU dan komunitas penerbang Indonesia. Kepergian Marsma TNI (Purn) Fajar Adrianto menjadi kehilangan besar, bukan hanya karena rekam jejak militernya yang gemilang, tetapi juga karena keteladanan dan semangatnya dalam membina generasi baru penerbang Tanah Air.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *