Penulis : La Iskar
|isnews.net| Tanggal 11 April menjadi momentum penting dalam perjalanan sejarah Kabupaten Dompu. Penetapan ini berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Dompu Tahun 2004 yang menetapkan Hari Jadi Dompu jatuh pada 11 April 1815, bertepatan dengan peristiwa letusan besar Gunung Tambora yang sangat memengaruhi wilayah Dompu saat itu. Kini, tepat 11 April 2026, Kabupaten Dompu memasuki usia 211 tahun—sebuah rentang waktu yang panjang dalam perjalanan sebuah daerah.
Namun, 211 tahun bukanlah waktu yang singkat. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apa yang sudah dilakukan untuk memajukan Kabupaten Dompu selama lebih dari dua abad perjalanan sejarah tersebut?
Kabupaten Dompu merupakan salah satu daerah tertua di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Wilayah ini sejak dahulu dikenal sebagai bekas kerajaan atau kesultanan yang memiliki hubungan perdagangan dengan berbagai daerah di Nusantara. Sejarah Dompu bermula dari Kerajaan Dompu yang telah ada sejak masa kuno. Dalam naskah kuno Nagarakretagama tahun 1365, nama Dompo atau Dompu telah disebut sebagai wilayah yang berada dalam pengaruh Kerajaan Majapahit.
Hal ini menunjukkan bahwa Dompu sudah dikenal sebagai wilayah penting sejak abad ke-14, terutama karena beberapa faktor strategis, antara lain jalur perdagangan laut, hasil kuda dan ternak, potensi pertanian dan hutan, serta posisi geografis yang strategis di Pulau Sumbawa. Pada masa tersebut, sistem pemerintahan masih berbentuk kerajaan tradisional yang dipimpin oleh raja-raja lokal.
Memasuki abad ke-16 hingga abad ke-17, Islam mulai berkembang di Dompu melalui jalur perdagangan dari Makassar, Bima, Ternate, dan Gowa. Seiring perkembangan tersebut, Kerajaan Dompu kemudian berubah menjadi Kesultanan Dompu. Para pemimpin mulai menggunakan gelar Sultan dan sistem pemerintahan pun mulai berlandaskan hukum Islam. Pada masa ini, Dompu memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Bima, Kerajaan Gowa, dan Kesultanan Ternate.
Sejarah Dompu berubah drastis ketika terjadi letusan besar Gunung Tambora pada 10–11 April 1815. Peristiwa ini menjadi salah satu bencana alam terbesar dalam sejarah dunia yang memberikan dampak besar terhadap wilayah Dompu. Banyak kampung hancur, penduduk meninggal dan mengungsi, pertanian rusak total, pemerintahan tradisional terganggu, serta struktur sosial masyarakat berubah secara signifikan. Peristiwa inilah yang kemudian dijadikan sebagai dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Dompu, yaitu 11 April 1815.
Letusan Tambora juga berdampak secara global, antara lain menyebabkan fenomena “tahun tanpa musim panas” di Eropa, perubahan iklim dunia, serta krisis pangan di berbagai wilayah.
Setelah peristiwa Tambora, wilayah Dompu semakin berada di bawah pengaruh kolonial Belanda. Pemerintahan kerajaan masih tetap ada, namun kekuasaannya dibatasi. Sistem administrasi kolonial mulai diterapkan, dan wilayah pemerintahan dibagi dalam distrik-distrik. Dompu kemudian menjadi wilayah pemerintahan swapraja di bawah kontrol Hindia Belanda.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, sistem kesultanan secara bertahap dihapuskan. Pemerintahan daerah modern mulai dibentuk, dan Dompu menjadi bagian dari wilayah Pulau Sumbawa dalam struktur pemerintahan Republik Indonesia. Selanjutnya, Dompu ditetapkan sebagai Kabupaten Dompu dalam sistem pemerintahan daerah.
Saat ini, Kabupaten Dompu dikenal memiliki potensi besar, di antaranya padang savana yang luas, peternakan kuda dan sapi, komoditas jagung dan pertanian, kawasan Tambora, wisata Lakey yang dikenal hingga mancanegara serta adanya spot tambang emas yang mendunia. Wilayah administratif Kabupaten Dompu meliputi Kecamatan Dompu, Kempo, Hu’u, Woja, Manggelewa, Pekat, Kilo, dan Pajo.
Namun, wajah Kota Dompu hari ini dinilai belum mencerminkan tuanya usia daerah tersebut. Sebagai kabupaten yang telah berusia lebih dari dua abad, kondisi ini menjadi catatan penting. Jika dibandingkan dengan daerah di sekitarnya seperti Kabupaten Bima, Kota Bima, Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Sumbawa Barat, perkembangan Dompu masih dinilai tertinggal.
Di jantung Kota Dompu, kondisi pertokoan dan pasar lama masih terlihat semrawut. Pedagang kaki lima bertebaran tanpa penataan yang rapi. Sampah masih terlihat di berbagai sudut kota, jalanan tampak kotor dan berdebu, area sekitar kantor bupati belum tertata dengan baik, trotoar tidak rapi, selokan kotor, serta tata ruang kota yang belum teratur.
Selain itu, kesadaran berlalu lintas masyarakat juga masih perlu ditingkatkan. Jalanan dipenuhi pengguna kendaraan yang belum tertib. Harapannya, generasi muda Dompu yang menempuh pendidikan di luar daerah seperti Mataram, Sulawesi, Jawa, Jakarta bahkan luar negeri dapat membawa perubahan pola pikir dan budaya yang lebih tertib ketika kembali ke daerah. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan perubahan tersebut belum terlihat signifikan.
Ke depan, sejumlah langkah pembenahan dapat dilakukan. Pemerintah daerah perlu menghadirkan investor dari pihak swasta untuk membantu pembangunan Kota Dompu. Jika memungkinkan, kantor bupati dapat ditata ulang atau dipindahkan ke kawasan yang lebih representatif. Tampilan kantor-kantor pemerintahan perlu diperbaiki agar terlihat rapi dan modern, dilengkapi dengan taman hijau dan ruang publik yang tertata.
Selain itu, saluran drainase kota dan trotoar perlu diperbaiki agar tertib dan bersih. Program lomba kampung sehat di setiap kecamatan dapat menjadi langkah awal membangun kesadaran masyarakat. Penataan Pasar Atas dan Pasar Lama perlu dilakukan secara terpadu bersama para pemilik toko dan pelaku usaha. Pembangunan hotel, klinik swasta, pusat perbelanjaan modern, serta plaza kota juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
Tidak kalah penting, pembangunan kawasan industri terintegrasi perlu direncanakan untuk menciptakan lapangan kerja baru. Pada akhirnya, kemajuan Dompu tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kesadaran masyarakat untuk memiliki dan menjaga kotanya sendiri.
Memasuki usia 211 tahun pada 11 April 2026, Kabupaten Dompu diharapkan tidak hanya bangga dengan sejarah panjangnya, tetapi juga mampu menata masa depan. Wajah Dompu ke depan harus mencerminkan daerah tua yang matang, maju, tertata, dan membanggakan bagi seluruh masyarakatnya.


















