banner 728x250

Permintaan Kredit Baru Turun, Sinyal Ekonomi Mulai Melambat? Survei BI Ungkap Fakta Mengejutkan di Kuartal II-2025

banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | isnews.net | Bank Indonesia (BI) merilis hasil Survei Perbankan terbaru yang mengungkap tren mencemaskan dalam sektor pembiayaan nasional. Penyaluran kredit baru pada kuartal II-2025 tercatat mengalami penurunan secara tahunan (year-on-year) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru yang hanya mencapai 85,22%, lebih rendah dibanding 89,11% pada kuartal II-2024. Meski begitu, jika dibandingkan kuartal I-2025 yang hanya 55,07%, tren permintaan kredit baru sebenarnya masih dalam fase pemulihan kuartalan.

banner 325x300

Tren Permintaan Kredit Baru (SBT BI), Kuartal II-2024 89,11%, Kuartal I-2025 55,07%, Kuartal II-2025 85,22% dan (Perkiraan) Kuartal III-2025 81,71%.

BACA JUGA

Era Baru Dagang AS-RI: Indonesia Longgarkan Tarif, Ekspor Digital & Mineral Olahan Mengalir ke Barat

Bank Indonesia mencatat bahwa permintaan kredit baru pada kuartal II-2025 terutama didorong oleh dua jenis kredit:

  • Kredit Modal Kerja: Pembiayaan operasional jangka pendek yang meningkat seiring kebutuhan bisnis pasca Ramadan dan awal semester kedua.

  • Kredit Investasi: Menguat karena pelaku usaha mulai menyiapkan belanja modal (capex) untuk ekspansi atau transformasi digital.

Namun, kredit konsumsi dilaporkan tumbuh melambat, mengindikasikan kehati-hatian rumah tangga dalam membelanjakan pendapatan, di tengah tekanan harga dan ekspektasi inflasi.

Dr. Aviliani, ekonom senior dari INDEF, menilai tren ini sebagai sinyal ambivalen. “Kredit memang tumbuh secara kuartalan, tapi secara tahunan ada perlambatan. Ini menandakan dunia usaha belum sepenuhnya yakin untuk ekspansi. Kita mungkin akan melihat ekonomi bergerak dengan hati-hati di semester kedua 2025,” ujarnya kepada media.

BACA JUGA :

Sri Mulyani Laporkan ke Prabowo: Defisit APBN 2025 Tembus 2,78%, Mendekati Batas Krisis?

Sementara itu, Mirza Adityaswara, mantan Deputi Gubernur BI, menekankan perlunya memperkuat sisi permintaan domestik. “Bank siap menyalurkan kredit, tapi kalau permintaan masih lesu, tidak akan optimal. Pemerintah perlu menjaga daya beli dan confidence sektor swasta,” katanya.

Survei BI juga menyajikan prakiraan penyaluran kredit pada kuartal III-2025, dengan nilai SBT sebesar 81,71%. Artinya, bank masih optimistis terjadi pertumbuhan penyaluran, namun lajunya diperkirakan lebih landai dibanding kuartal sebelumnya.

Survei Perbankan BI menunjukkan bahwa kredit baru masih dalam jalur pemulihan, namun kecepatan pertumbuhannya mulai melandai. Kondisi ini bisa menjadi indikasi ekonomi mulai melambat, atau paling tidak memasuki fase “normalisasi” pasca lonjakan pemulihan 2024.

BACA JUGA :

Turut Meramaikan Pusat Kota Mataram: Exist Hotel Hadirkan Kenyamanan dan Gaya

Pelaku perbankan dan dunia usaha kini menantikan arah kebijakan fiskal Presiden Prabowo, serta stimulus baru yang dapat mendorong konsumsi rumah tangga dan keberanian sektor swasta untuk ekspansi lebih agresif.

Redaksi akan terus memantau laporan triwulanan BI serta sinyal dari sektor perbankan dan dunia usaha.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *