banner 728x250

Aktivis Kritis Tiyo Ardianto Dilaporkan ke Polisi oleh Firdaus Oiwobo, Tudingan Ditunggangi PDIP Memantik Perang Narasi

banner 120x600
banner 468x60

Jakarta |isnews.net| – Tekanan terhadap aktivis yang dikenal vokal mengkritik pemerintah, Tiyo Ardianto, semakin memanas. Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) itu kini dilaporkan ke Polres Metro Tangerang Selatan oleh seorang warga bernama Firdaus Oiwobo.

Namun hingga kini, isi laporan tersebut masih menjadi misteri. Pihak kepolisian memilih irit bicara. Kasi Humas Polres Metro Tangsel, Ipda Yudhi Susanto, hanya menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu proses gelar perkara sehingga belum dapat mengungkap substansi laporan yang ditujukan kepada aktivis muda tersebut.

banner 325x300

Kasus ini mencuat di tengah meningkatnya sorotan terhadap Tiyo yang belakangan dikenal sebagai salah satu suara paling lantang dalam mengkritisi kebijakan pemerintah. Bahkan, pekan lalu ia mengaku menemukan alat pelacak atau tracker di mobil yang digunakannya. Pengakuan tersebut sempat mengundang perhatian publik dan memunculkan spekulasi mengenai adanya upaya pengawasan terhadap dirinya. Polisi saat itu meminta Tiyo untuk segera membuat laporan resmi.

Belum reda isu alat pelacak, Tiyo kembali diterpa serangan dari kelompok yang mengatasnamakan diri BEM Bersatu. Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, kelompok tersebut melontarkan tudingan bahwa Tiyo tidak bergerak secara independen, melainkan ditunggangi oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

BEM Bersatu mencoba membangun konstruksi dugaan tersebut dengan menyoroti kendaraan Toyota Fortuner yang digunakan Tiyo. Mereka menyebut mobil itu tercatat atas nama Siti Nuraeni, yang disebut merupakan adik dari Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso. Nama Setyo Sularso kemudian dikaitkan lagi dengan Jenderal (Purn) Andika Perkasa melalui hubungan keluarga, sementara Andika sendiri diketahui pernah menjadi tokoh penting dalam tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.

Rangkaian keterkaitan itu kemudian dijadikan dasar oleh BEM Bersatu untuk menuding adanya hubungan politik antara Tiyo dan PDIP.

Namun tudingan tersebut langsung mendapat bantahan keras dari elite partai berlambang banteng tersebut.

Ketua DPP PDIP, Said Abdullah, menilai tuduhan yang disampaikan BEM Bersatu terlalu dipaksakan dan tidak masuk akal. Menurutnya, Tiyo merupakan sosok yang memiliki independensi dan nalar yang kuat sehingga tidak mudah diperintah oleh kepentingan politik tertentu.

Said bahkan menegaskan bahwa aktivis seperti Tiyo bukan tipe orang yang dapat digerakkan demi kepentingan partai ataupun kelompok tertentu untuk mencari keuntungan politik.

Serangan balik juga datang dari Juru Bicara PDIP, Guntur Romli. Alih-alih menjawab tudingan yang diarahkan kepada partainya, Guntur justru mempertanyakan sumber pendanaan BEM Bersatu dalam menggelar konferensi pers tersebut.

Menurutnya, penyelenggaraan konferensi pers di Jakarta tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, publik juga berhak mengetahui siapa pihak yang berada di belakang kelompok tersebut dan dari mana sumber pendanaannya berasal.

Pernyataan Guntur Romli seolah mengubah arah serangan. Jika sebelumnya Tiyo menjadi sasaran tuduhan ditunggangi partai politik, kini justru BEM Bersatu yang balik disorot mengenai kemungkinan adanya pihak tertentu yang mendukung aktivitas mereka.

Situasi ini semakin memperlihatkan bahwa ruang demokrasi tengah diwarnai pertarungan narasi yang sengit. Di satu sisi, seorang aktivis yang selama ini dikenal keras mengkritik pemerintah harus menghadapi laporan polisi dan berbagai tudingan politis. Di sisi lain, pihak yang melontarkan tuduhan juga tidak luput dari pertanyaan mengenai independensi mereka.

Di tengah silang sengkarut tersebut, publik kini menunggu dua hal penting: pertama, apa sebenarnya isi laporan yang dilayangkan terhadap Tiyo Ardianto di Polres Metro Tangerang Selatan; dan kedua, apakah tudingan-tudingan yang saling dilemparkan antar kelompok ini didukung bukti yang kuat atau hanya menjadi bagian dari perang opini yang semakin panas menjelang dinamika politik nasional berikutnya.

Yang jelas, kasus ini kembali memperlihatkan bahwa suara kritis, politik, dan kekuasaan masih menjadi kombinasi yang selalu memicu kontroversi. Dan ketika tudingan demi tudingan mulai beterbangan, pertanyaan besarnya adalah: siapa sebenarnya yang sedang memainkan panggung, dan siapa yang sedang dijadikan sasaran?

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *